Tentang Kecerdasan Kekhalifahan dalam Psikologi

Posted on Posted in General

Manusia merupakan teka-teki. Oleh sebab itu eksplorasi terhadap kemampuan kemanusiaan tidak hendak sempat menyudahi. Tata cara intelligence quotient (iq) (intelegence quotion) yang ditemui binet-simmon tahun 1900-an baru-baru banyak digugat sebab cuma mengukur satu aspek aja dari kecerdasan manusia. Tidak sedikit harian psikologi yang pula mengkritik tajam pendekatan ini sebab kecerdasan manusia tidak ubahnya sekadar deret angka yang malah mengeliminir aspek humanity.

Kecerdasan Kekhalifahan dalam Psikologi

Sehabis itu timbul beberapa gagasan dan juga pendekatan baru yang memandang manusia secara lebih utuh. Antara lain goleman mengakibatkan gagasan yang dinamakannya emotional quotion (eq). Tidak hanya itu pula terdapat pendekatan lain yang berupaya mensintesa bermacam pendekatan sampai-sampai timbul emotional spiritual quotion (esq). Terakhir, gagasan terkini dicetuskan gardner dengan konsep multiple intelegence (mi) ataupun kecerdasan majemuk yang pernah menemukan reaksi positif yang cukup luas.

Bagaikan suatu pendekatan terkini, konsep mi dinilai cukup sempurna dan juga memenuhi bermacam kelemahan yang sepanjang ini terlewatkan. Banyak harian psikologi yang menyanjung dan juga menunjang konsep baru ini. Lewat pendekatan kecerdasan majemuk ini, cukup banyak sisi manusia yang dibeberkan. Tidak hanya menggali aspek yang bertabiat intelektual, mi pula merambah daerah sosial, ialah dengan kecerdasan intra dan juga interpersonalnya.

Keunggulan lain dari konsep multiple intelegence ini paling utama sebab gardner bagaikan penemu dan juga penggagasnya telah melaksanakan serangkaian riset yang memakan waktu puluhan tahun. Proses yang demikian lama ini pastinya bukan perjuangan yang tidak ringan. Terlebih perihal tersebut menyangkut soal manusia bagaikan makhluk multidimensional yang penuh dengan teka-teki. Sebab itu waktu, atensi, dan juga pula pengeluaran yang tidak sedikit tentu hendak menciptakan kesimpulan yang lebih baik.

Kecerdasan kekhalifahan

Walaupun demikian, terdapat beberapa pakar ataupun harian psikologi yang memandang belum sempurnanya konsep multiple intelegence tersebut. Terlebih kecerdasan menggambarkan keahlian buat membongkar permasalahan dan juga menghasilkan produk ataupun karya. Kecerdasan pula memiliki penafsiran sensitifitas, sampai-sampai buat mengukurnya dibutuhkan penjabaran yang lebih deskriptif. Nah, salah satu ketiadaan konsep mi dari gardner sebab belum memegang aspek sosial secara luas ataupun aspek ketuhanan.

Salah satu kritik itu dilontarkan psikolog Susilaningsih, MA dari universitas islam negeri (uin) yogyakarta. Sebab itu ia melontarkan ekstra kecerdasan kekhalifahan dan juga kecerdasan tauhidiyah buat memenuhi konsep mi dari gardner. Kecerdasan kekhalifahan ini memegang keahlian sosial secara lebih luas. Sampai-sampai tidak cuma menyangkut ikatan secara intra dan juga antar personal, tetapi pula memegang sisi solidaritas, kepekaan dan juga kepemimpinan sosial. Sebaliknya kecerdasan tauhidiyah ataupun ilahiyah menyangkut sensitifitas terhadap agama, moralitas, dan juga ketuhanan.

Konsep kecerdasan majemuk ataupun kecerdasan kekhalifahan pada dasarnya dapat dilembagakan. Terlebih lagi konsep ini, bagi susilaningsih, dapat dicoba semenjak dari pra sekolah, serupa dalam kelompok bermain. Dalam aktivitas itu, seluruh kemampuan anak dapat dibesarkan secara integral. Tetapi ini benar memerlukan waktu, atensi, dan juga proses yang lebih lingkungan, sampai-sampai membutuhkan kepedulian dari golongan pendidik. Tetapi bagaikan suatu konsep, tentu ini mampu jadi modul harian psikologi yang butuh menemukan atensi lebih lanjut.