Menganalisis Sidang Ahok Hari Ini

Posted on Posted in General

melihat sidang ahok 3

Semalam saya telah mengkaji kalau sidang Ahok hari ini akan tidak semenarik dahulu, terlebih dalam pandangan mereka yang anti Ahok. Kenapa? Lantaran konsentrasi mereka saat ini terdiri. Aktor intelektual serta beberapa punggawanya tengah ikut serta permasalahan yang cukup serius. Ini seperti seseorang suami yang ketahuan selingkuh dengan seseorang janda cantik. Telah tak utama lagi ngurusin kerjaan.

Lantas, bagaimana dengan sidang hari ini? Bagaimana dengan kesaksian beberapa saksi? Saksi yang didatangkan Jaksa Penuntut Umum lumayan menarik. Sebab, mendatangkan Ketua MUI yang disebut cikal akan terbentuknya GNPF MUI hingga terjadinya tindakan bela islam berjilid-jilid itu. Juga, didatangkan juga dua orang “saksi kenyataan” sebelumnya setelah ada juga saksi kenyataan pertama. Dua orang saksi kenyataan ini yaitu nelayan Pulang Panggang.

Sidang Ahok bakal tetaplah menarik, terlebih untuk mereka yang ada di belakang serta di depan Ahok. Ini menyangkut hari esok negeri kita. Bila Ahok kalah, walau dari sidang-sidang terlebih dulu tidak mungkin kalah, atau Ahok di buat seakan-akan kalah, pasti ini bakal beresiko besar pada hari esok demokrasi negeri ini.

Karenanya. Saya ingin memperkirakan sebagian peluang yang akan berlangsung. Ini utama untuk membaca gerakan lawan begitu utama dalam bikin kiat. Maka dari itu, saya cobalah mengkaji dari beberapa momen pra-sidang. Hingga, dibuat sebagian peluang. Yang jikalau meleset, bermakna dapat dibuktikan kalau penulis juga manusia, yang ditakdirkan lemah. Jikalau benar, pasti, kebenaran cuma datang dari Tuhan.

Kita tujukan perhatian kita segera pada KH. Ma’ruf Amin, Ketua MUI. Ahok dapat hingga jadi terdakwa, sedikit banyak, ada peran MUI di sini. MUI dinilai begitu gegabah dalam memberi fatwa kalau Ahok dinilai sudah menista Islam, Quran serta Ulama. Hilang ingatan tidak tuh. Penistaannya sangat banyak.

MUI dinilai berniat mengambil keputusan fatwa atas Ahok. Sebab, ada agenda spesifik yang kita dapat sebut sebagai pesanan. Kok dapat demikian? Ya aneh lah. MUI kan instansi agama di mana beberapa ulama berkumpul. Pasti, instansi fatwa ini mesti betul-betul sesuai sama azas “pemberian fatwa”. Tabbayyun serta kehati-hatian, yaitu kuncinya.

Gus Mus telah peringatkan dalam sebagian tulisan serta wawancanya di media. Beliau mengkritik MUI yang sangat gegabah dalam bikin fatwa. Terlebih, tak ada sosialisasi di tingkat bawah tentang apakah itu fatwa. Fatwa kan hanya hanya “saran”. Ia tak mengikat serta berkekuatan hukum.

Maka dari itu. Dalam menanggapi permasalahan ini, Jenderal Tito mengajak MUI untuk berdialog sekitar fatwa MUI. Dalam dialog itu Tito mengemukakan kritiknya atas instansi MUI berkaitan fatwanya yang membawa efek sosial serta hukum di orang-orang. Tito mengambil contoh masalah larangan untuk umat Islam menggunakan atribut Natal. Dari fatwa larangan ini menimbulkan gerakan massa yang akan mengawal fatwa ini dengan mencari mensweeping beberapa tempat spesifik.

MUI juga tidak berkutik. Tito memanglah ahli ingindali kegaduhan di orang-orang. Ia memiliki langkah yang halus namun begitu menohok untuk menggelandang satu persatu beberapa pengacau negeri ini, termasuk juga MUI. Pasti ini pukulan telak sekalian peringatan pada MUI kalau janganlah beberapa macam dengan fatwa serta janganlah seenaknya keluarkan fatwa. Atau polisi bakal membongkar “yang titik-titik”.

Saya berprasangka buruk sekalian mengira kalau polisi miliki rentetan dosa MUI. Terlebih permasalahan investasi bodong GTIS. Peristiwanya telah lama berlangsung. Sebagian pejabat MUI telah terseret masalah ini. Namun, belum semua kejaring. Waktu peristiwa itu berlangsung, sang bekas kan masihlah memimpin. Jadi “cincai lah”. Namun, dengan prasyarat, setiap saat ada pesanan fatwa, jangan pernah nolak.

Mengapa saya hingga sejauh itu? Kita saksikan masalah Sylvi. Peristiwanya telah lama sekali berlangsung. Namun, baru dibongkar sejak Tito jadi Kapolri. Ini kan sinyal bertanya besar? Pasti, polisi bakal bergerak sesuai sama Pemimpin paling tingginya. Waktu Pakde Jokowi pilih Tito, tentu dengan semua pertimbangan kalau beberapa masalah yang tengah mati suri serta sudah membangkai, bakal di buka lagi.

Rangkuman saya, polisi miliki kartu truf untuk meng-gimana-gimana-kan MUI. Itu dapat setiap saat di buka. Kenapa saya hingga seyakin itu? Cobalah cermati pernyataan MUI sesudah dialaog dengan Polri. MUI menyebutkan tak ikut serta dengan GNPF.

Terlebih, Gus Mus pernah berkata blak-blakan di media kalau tak benar fatwa mesti dikawal. Ada di kitab fikih mana yang mengatakan fatwa mesti dikawal? Pernyataan Gus Mus ini sesungguhnya kode untuk Ma’ruf Amin. Sebagai Rais Aam NU, Ma’ruf Amin harusnya memberi contoh sesuai sama spirit NU yang lebih berwawasan nusantara.

Ma’ruf Amin kelihatannya dilema. Di satu segi ia yaitu Rais Aam NU yang memiliki kedudukan paling tinggi di lingkungan PBNU, di segi lain, ia juga Ketua MUI yang kelihatannya sudah disusupi oleh oknum-oknum wahabi. Jadinya kan serba salah. Ingin bermanuver lewat MUInya, pasti kiayi-kiayi NU akan tidak tinggal diam.

Jadi. Bagaimana dengan kesaksian KH. Ma’ruf Amin kelak di sidang Ahok hari ini? Sebagai ahli ra (i) sa, saya rasakan beliau bakal tetaplah pada fatwanya, sebab menganulir fatwa dapat beresiko segera pada MUI. Golongan sapi-sapian dapat “balik kanan gerak” dengan MUI. Cuma MUI yang saat ini jadi harapan mereka untuk menjebloskan Ahok ke penjara.

Di segi lain. Ma’ruf Amin juga pikirkan nasib instansi fatwanya yang mulai terserang dari beragam penjuru. Kementerian Agama yang mulai berlaku tegas atas sertifikasi halal. Juga, kepolisian yang telah mewanti-wanti janganlah seenaknya mengambil sikap. Terlebih, polisi miliki kartu truf yang dapat di buka setiap saat.

Saya ra (i) sa. Ma’ruf Amin cuma dapat bersaksi dengan cara normatif. Terlebih, bila lihat ikhwan secingkrangannya dilaporkan ke polisi lantaran sangkaan pencemaran nama baik serta berikan kesaksian palsu. Pasti, ia bakal jadi pertimbangan Ma’ruf Amin untuk bermanuver menghantam Ahok seperti mulai sejak masalah penistaan agama pertama kalinya ramai.