Batas Kepemilikan Asing pada Perusahaan Asuransi Optimal 80 Persen

Posted on Posted in Business & Economy

Pemerintah tengah menggodok Rancangan Ketentuan Pemerintah (RPP) mengenai Kepemilikan Asing pada Perusahaan Perasuransian. Batas kepemilikan asing diusulkan tak kian lebih 80 %.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, usulan batas optimal kepemilikan asing sebesar itu bukanlah hal baru. Sebab ketetapan itu telah terdaftar didalam Pasal 6 PP Nomer 73 Th. 1992.

” Dari ketentuan yang ada yakni PP 73 Th. 1992, kepemilikan asing tertinggi 80 %, ” tutur perempuan yang sering disapa Ani itu waktu rapat dengan Komisi XI, Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Tetapi papar Ani, pemerintah merubah ketetapan itu pada 1999 dengan keluarkan PP Nomer 63 Th. 1999. Dalam Pasal 10 A ketentuan itu, kepemilikan asing perusahaan asuransi dibolehkan melebihi batas 80 %.

Oleh karenanya, pemerintah punya niat untuk merubah ketetapan pasal 10 A itu dengan kembalikan batas optimal kepemilikan asing di perusahaan asuransi ke angka 80 %.

Pemerintah sendiri melihat kepemilikan asing di perusahaan asuransi masihlah butuh. Sebab kepemilikan saham itu diinginkan dapat mendongkrak perkembangan bidang asuransi.

Disamping itu untuk perusahaan asuransi yang kepemilikan saham asingnya terlanjur kian lebih 80 %, pemerintah bakal memberi kelonggaran. Perusahaan itu tak harus untuk lakukan penyesuaian kepemilikan saham sesuai sama ketentuan baru.

Walau demikian, Staf Pakar Menteri Keuangan Bagian Kebijakan serta Regulasi Layanan Keuangan serta Pasar Modal, Isa Rachmatarwata menyampaikan, apabila perusahaan memerlukan pengembangan, jadi menambahkan modal mesti sesuai dengan kepemilikan sahamnya.

” Pembagian optimal asing mesti 80 % dasarnya. Bila tidak ada investor domestik strategis, jadi mesti IPO minimum 20 %, ” kata Isa.

Industri Asuransi Targetkan Perkembangan Lebih Besar Agen Berlisensi

Industri asuransi membidik perkembangan jumlah agen berlisensi yang semakin besar pada th. depan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim pada Jumat (18/11/2016), tujuan itu dilandasi, satu diantaranya, oleh perkembangan ekonomi Indonesia yang dapat disebutkan baik. ” Perkembangan ekonomi kita di angka 5, 1 % itu kan baiklah. Bila perkembangan baik, industri asuransi juga bertambah, ” kata Hendrisman dalam paparan kemampuan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Kuartal-III di Jakarta.

Hendrisman mengutamakan, perkembangan jumlah agen berlisensi meliputi semua type industri asuransi. ” Jadi keseluruhan ya ini targetnya, asuransi jiwa, syariah, semua, ” papar pria kelahiran Palembang, Sumatra Selatan itu.

Selanjutnya, Hendrisman menjelaskan kalau berdasar pada kebijakan Otoritas Layanan Keuangan (OJK), tujuan paling utama perkembangan jumlah agen berlisensi meraih 10 juta agen mulai sejak diputuskan pada 2011 silam. Angka ini lalu jadi tambah step untuk step.

Catatan Hendrisman tunjukkan kalau s/d akhir 2016, jumlah agen berlisensi meraih 560. 000 agen. Tujuan ini ditingkatkan lagi selama 2017 yang akan datang. ” Targetnya meraih 700. 000 agen, ” pungkas Hendrisman.

Pada saat itu, catatan AAJI tunjukkan kalau keseluruhan pendapatan asuransi jiwa bertambah 78, 1 % jadi Rp 158, 65 triliun pada Kuartal-III 2016. Pada Kuartal III-2015, keseluruhan pendapatan ada di posisi Rp 89, 10 triliun.